Spesifikasi
| Prosesor | Intel Core i5-13420H (8 Core / 12 Thread, 4P+4E, TDP 45 W) |
| GPU | NVIDIA GeForce RTX 3050 4 GB GDDR6 — TGP maks 75 W |
| Layar | 15.6" FHD (1920×1080) IPS, 144 Hz, 300 nits, non-glare |
| 100% sRGB | Tidak (56% sRGB coverage · 57,6% volume) |
| RAM | 16 GB DDR4 3200 MHz dual channel SO-DIMM (upgrade s/d 64 GB) |
| Storage | 512 GB SSD M.2 NVMe PCIe Gen4x4 + 1 slot M.2 kedua (PCIe Gen3) |
| Upgrade | RAM + SSD |
| Baterai / Charger | 54 Wh / 150 W |
| Cooling | 2 Fan · 4 Heatpipe · 4 Exhaust |
| Bobot | ±2.09 kg · Tebal 2,27 cm · Charger 356 gram |
| Material | Polikarbonat, hitam |
| Konektivitas | 2× USB-C, USB 3.2 Gen 1, USB 2.0, HDMI, Mini DisplayPort, RJ45, microSD, 2× jack 3.5 mm |
| Wireless | WiFi 6, Bluetooth 5.2 |
| OS | Windows 11 (tanpa Microsoft Office) |
| Garansi | 3 Tahun Servis & Sparepart · 3 Tahun Axioo ADP Extra |
| Merk | Axioo |
| Model | Pongo 535 |
| Harga | Rp 15.499.000 |
Benchmark CPU: Intel Core i5-13420H
| Performa Single-Core | 3.357 |
| Performa Multi-Core | 16.934 |
Sumber: NanoReview · PassMark
Garansi 3 Tahun plus ADP Extra — Nilai Jual Utamanya
Ini alasan paling kuat melirik Pongo 535. Paketnya terdiri dari 3 tahun garansi servis dan sparepart ditambah 3 tahun Axioo ADP Extra, dan cakupan ADP-nya jauh lebih luas dari yang biasa ditawarkan pabrikan lain. Kerusakan karena cairan, jatuh tidak sengaja, korsleting listrik, bencana alam, sampai pencurian semuanya masuk, meski klaim pencurian butuh bukti tambahan.
Yang membuatnya makin menarik adalah klaim ADP Extra bisa dilakukan berkali-kali dalam periode tiga tahun, bukan sekali seumur pemakaian seperti mayoritas kompetitor. Jaringannya juga luas dengan lebih dari 194 service center di seluruh Indonesia, tersedia same-day service, dan kalau perbaikan lebih dari 6 jam pengguna dipinjami laptop pengganti. Pembersihan dan repasting thermal paste bahkan gratis seumur hidup.
Untuk laptop yang dipakai mahasiswa atau dibawa bepergian setiap hari, perlindungan seperti ini nilainya nyata dan sulit ditandingi di rentang Rp15,5 juta. Namun tradeoffnya adalah anggaran itu jelas dialokasikan ke layanan purna jual, bukan ke komponen, dan hal tersebut terlihat di beberapa bagian lain.
Suhu CPU 93 sampai 96 Derajat di Mode Performance
Sistem pendinginnya sebenernya tergolong serius untuk kelas ini, dengan 2 kipas, 4 heatpipe, dan 4 lubang pembuangan. Namun di stability test Cinebench R23 selama 30 menit pada mode Performance, suhu prosesor bertahan di 93 sampai 96 derajat Celcius. Angka itu masih di bawah 100 derajat sehingga belum masuk kategori berbahaya, tapi jelas tinggi untuk pemakaian rutin berjam-jam.
Untungnya ada jalan keluar yang mudah. Beralih ke mode Entertainment menurunkan suhu ke bawah 80 derajat, sementara skornya cuman turun dari 11.300–11.400 poin ke 10.100–10.200 poin. Selisih sekitar 10% itu praktis tidak terasa di pemakaian harian, jadi mode Entertainment justru lebih masuk akal dipakai sehari-hari dan mode Performance disimpan untuk beban singkat yang benar-benar butuh.
| Mode | Cinebench R23 (bertahan) | Suhu CPU |
| Performance | 11.300 – 11.400 poin | 93 – 96 °C |
| Entertainment | 10.100 – 10.200 poin | di bawah 80 °C |
Hasil Pengujian Rendering dan Editing
| Pengujian | Waktu |
| CapCut — ekspor Full HD 60fps | 1 menit 4 detik |
| Premiere Pro 2026 — ekspor Full HD 60fps | 1 menit 34 detik |
| CapCut — ekspor 4K60 | 2 menit 50 detik |
| DaVinci Resolve 20.3 — ekspor Full HD 60fps | 3 menit 37 detik |
| Premiere Pro 2026 — ekspor 4K60 | 5 menit 31 detik |
| Blender 5.0.1 Barbershop — GPU + OptiX | 6 menit 11 detik |
| Blender 5.0.1 Barbershop — GPU compute | 8 menit 29 detik |
| DaVinci Resolve 20.3 — ekspor 4K60 | 13 menit 1 detik |
| Blender 5.0.1 Barbershop — CPU render | 39 menit 18 detik |
Selisih paling mencolok ada di Blender, karena rendering lewat CPU butuh 39 menit 18 detik sementara lewat GPU cuma 8 menit 29 detik, dan turun lagi ke 6 menit 11 detik kalau NVIDIA OptiX diaktifkan. Artinya RTX 3050 4 GB memangkas waktu rendering sampai seperenam, dan itu membuktikan bahwa GPU dedicated di laptop ini bukan sekadar untuk gaming.
Untuk editing video, ekspor 4K60 di Premiere Pro selesai dalam 5 menit 31 detik dengan suhu yang tetap adem di 59–60 derajat untuk CPU dan 62–63 derajat untuk GPU. Jadi VRAM 4 GB masih sanggup menangani 4K60 di Premiere. Namun tradeoffnya terlihat di DaVinci Resolve versi gratis yang butuh 13 menit 1 detik dengan suhu CPU melonjak ke 90–96 derajat, karena versi gratisnya memang membebani prosesor lebih berat di Windows. Jadi misal pengguna memakai Resolve gratis, maka sebaiknya bekerja di Full HD 60fps atau maksimal 4K 24–30fps.
Benchmark Sintetis dan Suhu Saat Gaming
| Pengujian | Hasil |
| 3DMark Fire Strike | 13.625 poin |
| 3DMark Time Spy | 5.159 poin |
| Suhu GPU — Time Spy stress test | 73 – 74 °C |
| Suhu GPU — Cyberpunk 2077 (30 menit) | 81 – 82 °C |
| Suhu permukaan — tengah keyboard | 40 – 41 °C |
| Suhu permukaan — area WASD | di bawah 35 °C |
| Suhu permukaan — palm rest | di bawah 35 °C |
| SSD — kecepatan tulis (CrystalDiskMark) | 4.021 MB/s |
Yang patut diapresiasi adalah suhu permukaannya. Setelah bermain Cyberpunk 2077 selama 30 menit, area WASD dan palm rest tetap di bawah 35 derajat, dan hanya bagian tengah keyboard yang naik ke 40–41 derajat. Artinya panas dialirkan menjauh dari titik yang bersentuhan dengan tangan, dan itu membuat sesi gaming panjang tetap nyaman meski suhu internalnya tinggi.
Panel 144 Hz dengan Cakupan Warna 56% sRGB
Panel 15,6 inch FHD IPS 144 Hz sudah tepat sasaran untuk gaming, dan permukaan non-glare membuat pantulan lampu atau jendela tidak mengganggu. Kecerahan hasil ukur di 300 nits juga di atas rata-rata kelas gaming yang biasanya berhenti di 250 nits, dan panel IPS-nya konsisten dilihat dari berbagai sudut.
Namun tradeoffnya adalah cakupan warnanya yang cuman 56% sRGB. Angka itu jauh di bawah panel 100% sRGB yang dipakai Lenovo LOQ 15ARP10E di harga Rp12 juta - Rp13 juta, jadi editing warna untuk publikasi sebaiknya tidak dikerjakan di layar ini. Untuk belajar, gaming, dan editing yang tidak menuntut akurasi warna, panel ini masih memadai; namun buat yang serius ngonten, menambah monitor eksternal bersertifikasi 100% sRGB jadi keharusan.
Baterai 54 Wh — Selisih Dua Kali Lipat Antar Mode
Hasil uji pemutaran video 1080p lokal menunjukkan perbedaan yang sangat lebar. Di mode Entertainment dengan refresh rate 144 Hz, baterai hanya bertahan 3 jam 23 menit. Namun begitu beralih ke mode Power Saving yang menurunkan refresh rate ke 60 Hz, angkanya melonjak ke 7 jam 40 menit.
Selisih lebih dari dua kali lipat itu menunjukkan betapa mahalnya biaya daya untuk mempertahankan 144 Hz. Jadi pengguna yang bepergian tanpa charger sebaiknya membiasakan diri beralih ke Power Saving, karena kapasitas 54 Wh sendiri tergolong standar untuk laptop gaming. Pengisiannya juga tidak cepat, dengan 46% terisi di 30 menit pertama dan butuh 2 jam 24 menit dari kosong sampai penuh.
Port Lengkap dan Ruang Upgrade
Kelengkapan portnya termasuk yang terbaik di kelas ini. Selain dua USB Type-C, tersedia USB 3.2 Gen 1, USB 2.0, HDMI, Mini DisplayPort, pembaca microSD, dan yang penting untuk gaming kompetitif yaitu Gigabit Ethernet yang mulai dihilangkan banyak pabrikan. Jack mikrofon dan audio juga dipisah, bukan digabung jadi satu combo.
Sisi upgrade juga lapang. RAM 16 GB DDR4 3200 dual channel memakai SO-DIMM dan bisa dinaikkan sampai 64 GB, sementara SSD 512 GB Gen4x4 bawaannya ditemani satu slot M.2 kedua. Namun tradeoffnya adalah slot kedua itu hanya mendukung PCIe Gen3, jadi SSD tambahan tidak akan secepat yang bawaan. RAM-nya juga masih DDR4, tertinggal dari DDR5 yang dipakai kompetitor di harga lebih rendah.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan
- Garansi 3 tahun servis plus 3 tahun ADP Extra, bisa diklaim berkali-kali
- 194 service center, same-day service, laptop pinjaman bila servis lebih 6 jam
- Repasting thermal paste gratis seumur hidup
- Cooling 2 fan, 4 heatpipe, 4 exhaust dengan 4 profil performa
- Suhu permukaan WASD dan palm rest di bawah 35 °C saat gaming
- Ekspor 4K60 Premiere Pro 5 menit 31 detik dengan suhu adem
- Port lengkap termasuk RJ45, HDMI, dan Mini DisplayPort
- RAM DDR4 dual channel upgrade sampai 64 GB, plus slot M.2 kedua
- SSD Gen4x4 dengan kecepatan tulis 4.021 MB/s
- Panel 144 Hz non-glare 300 nits
Kekurangan
- Panel cuman 56% sRGB, tidak akurat untuk kerja konten
- Suhu CPU 93–96 °C di mode Performance
- VRAM cuman 4 GB, terbatas untuk judul AAA terbaru
- RAM masih DDR4 3200, tertinggal dari DDR5 kompetitor
- Slot M.2 kedua hanya PCIe Gen3
- Baterai cuman 3 jam 23 menit di mode 144 Hz
- Pengisian penuh 2 jam 24 menit
- Tidak dibundel Microsoft Office
- Speaker cenderung flat, bass tipis
- Bobot total bawaan 2,45 kg dengan charger
Kesimpulan
Axioo Pongo 535 dibeli terutama karena paket purna jualnya. Garansi 3 tahun servis ditambah 3 tahun ADP Extra yang bisa diklaim berulang, didukung 194 service center dan repasting gratis seumur hidup, adalah kombinasi yang sulit ditandingi di rentang Rp15,5 juta. Hasil pengujiannya juga menunjukkan komponennya masih mumpuni untuk editing 4K60 maupun rendering 3D ringan.
Namun tradeoffnya adalah panel 56% sRGB dan VRAM 4 GB, dua hal yang menunjukkan di mana anggarannya dipangkas. Jadi misal prioritas pengguna adalah akurasi warna atau frame rate tertinggi, maka SKU lain di harga sama akan lebih tepat; namun jika yang dicari adalah ketenangan jangka panjang, laptop ini justru paling masuk akal.
Direkomendasikan untuk: Pelajar, mahasiswa, dan pekerja kantoran yang butuh laptop bertenaga sekaligus perlindungan maksimal, serta video editor pemula yang bersedia menambah monitor eksternal untuk kerja warna.