Spesifikasi
| Prosesor | Intel Core i5-13420H (8 Core / 12 Thread, up to 4.60 GHz, TDP 45 W) |
| GPU | NVIDIA GeForce RTX 3050 6 GB GDDR6 โ TGP 75 W |
| Layar | 15.6" FHD (1920ร1080) IPS, 144 Hz, anti-glare |
| 100% sRGB | Tidak (62,5% sRGB) |
| RAM | 16 GB DDR4 3200 SO-DIMM single channel (1 slot kosong) |
| Storage | 512 GB SSD NVMe PCIe Gen 4 + 1 slot SSD kosong |
| Upgrade | RAM + SSD |
| Baterai / Charger | 52.5 Wh / 120 W |
| Webcam | HD 720p 30 FPS |
| Keyboard | Backlit putih |
| Bobot | ยฑ2.29 kg ยท Total 2,8 kg dengan charger 500 gram |
| OS | Windows 11 |
| Garansi | 2 Tahun Garansi Resmi + ADP |
| Merk | HP |
| Model | Victus 15 FA2716TX |
| Harga | Rp 15.400.000 |
Benchmark CPU: Intel Core i5-13420H
| Performa Single-Core | 3.357 |
| Performa Multi-Core | 16.934 |
Sumber: NanoReview ยท PassMark
Performa Gaming di 1080p
| Game | Setelan | Frame Rate |
| Dying Light the Beast | 1080p Low | 45 โ 50 FPS |
| Black Myth Wukong | 1080p Medium | 42 โ 55 FPS |
| Red Dead Redemption 2 | 1080p Ultra | 45 โ 52 FPS |
Tiga judul di atas adalah beban terberat yang masuk akal dipakai untuk mengukur laptop di kelas ini, dan hasilnya konsisten di kisaran 42 sampai 55 FPS. Angka itu artinya semua game tersebut playable, namun jelas belum menyentuh potensi penuh panel 144 Hz yang terpasang. Jadi refresh rate tinggi di sini lebih terasa manfaatnya di judul kompetitif yang bebannya jauh lebih ringan, bukan di game AAA modern.
Yang menarik adalah Red Dead Redemption 2 masih menyentuh 45 sampai 52 FPS di setelan Ultra, sementara Dying Light the Beast justru butuh setelan Low untuk mencapai kisaran yang sama. Selisih itu memperlihatkan bahwa game rilisan 2025 ke atas menuntut VRAM dan bandwidth jauh lebih besar dari game 2018, dan di titik itulah kapasitas 6 GB mulai jadi pembeda dibanding varian RTX 3050 4 GB.
RTX 3050 6 GB dengan TGP 75 W
Ini alasan utama melirik SKU ini. RTX 3050 beredar dalam dua varian VRAM, dan yang dipasang di sini adalah 6 GB GDDR6, bukan 4 GB yang lebih umum ditemui di rentang harga serupa seperti pada Axioo Pongo 535. Tambahan 2 GB itu terdengar kecil, namun untuk game AAA modern maupun rendering, VRAM adalah batas keras yang begitu terlampaui langsung menurunkan frame rate secara drastis, bukan bertahap.
Dayanya juga tidak dipangkas. TGP 75 W adalah batas atas untuk RTX 3050 di laptop, dan angka itu setara dengan Acer Aspire 7 Pro A715 maupun Axioo Pongo 535 yang sama-sama dipatok 75 W. Namun tradeoffnya adalah pilihan HP untuk tetap memakai RTX 3050 di harga Rp15,4 juta, padahal di rentang yang sama sudah ada SKU dengan GPU generasi lebih baru, jadi keunggulannya bertumpu pada VRAM dan purna jual, bukan pada arsitektur.
RAM Single Channel โ Pekerjaan Rumah Pertama
Kapasitasnya sudah 16 GB DDR4 3200, namun konfigurasinya single channel karena hanya satu keping yang terpasang dari dua slot yang tersedia. Konfigurasi seperti ini menahan bandwidth memori, dan dampaknya paling terasa justru pada game yang bergantung pada iGPU maupun pada beban kerja yang banyak memindahkan data antara prosesor dan grafis.
Untungnya slot keduanya dibiarkan kosong dan bisa langsung diisi, sama seperti slot SSD M.2 kedua yang juga tersedia. Jadi misal pengguna membeli unit ini, maka menambah satu keping RAM sebaiknya masuk dalam anggaran sejak awal, bukan ditunda; namun jika pemakaiannya hanya Office dan game ringan, konfigurasi bawaan sudah cukup untuk sementara.
Panel 144 Hz dengan Cakupan 62,5% sRGB
Panel 15,6 inch FHD IPS 144 Hz dengan permukaan anti-glare sudah tepat untuk gaming, karena pantulan lampu maupun jendela tidak mengganggu dan sudut pandangnya konsisten. Refresh rate 144 Hz juga jadi alasan kuat buat gamer kompetitif yang bermain judul e-sport dengan beban grafis ringan.
Namun tradeoffnya adalah cakupan warna yang berhenti di 62,5% sRGB. Angka itu masih di atas panel 56% sRGB milik Axioo Pongo 535, tapi tetap jauh dari sertifikasi 100% sRGB, jadi warna yang terlihat di layar ini tidak bisa dijadikan acuan saat hasilnya dipublikasikan. Untuk editor atau konten kreator yang menuntut akurasi warna, monitor eksternal bersertifikasi 100% sRGB jadi keharusan, bukan pelengkap.
Bobot 2,8 Kilogram dan Catatan Engsel
Unitnya sendiri 2,29 kg, lalu chargernya menambah 500 gram sehingga total bawaan menyentuh 2,8 kg. Angka itu tergolong berat untuk laptop 15 inch, dan konsekuensinya terasa buat mahasiswa yang memindahkan laptop antar ruang kelas setiap hari. Jadi laptop ini lebih masuk akal ditempatkan sebagai mesin utama di meja, bukan sebagai perangkat yang dibawa berpindah sepanjang hari.
Satu hal lain yang perlu disadari calon pembeli adalah isu engsel yang beredar di kalangan pengguna Victus. Saya belum menemukan angka tingkat kejadiannya, jadi ini bukan vonis bahwa setiap unit akan mengalaminya; namun cukup jadi alasan untuk membuka dan menutup layar dengan hati-hati sejak hari pertama, dan alasan tambahan untuk menghargai garansi ADP yang menyertainya.
Garansi 2 Tahun plus ADP
Paket purna jualnya berupa 2 tahun garansi resmi ditambah ADP, dan cakupan ADP inilah yang membuatnya berbeda dari garansi standar, karena kerusakan akibat kecelakaan seperti terjatuh atau tumpahan cairan ikut ditanggung. Untuk laptop seberat ini yang tetap dibawa berpindah, perlindungan tersebut nilainya nyata.
Namun tradeoffnya adalah durasinya yang kalah dari Axioo Pongo 535 dengan 3 tahun servis plus 3 tahun ADP Extra di harga yang praktis sama. Jadi misal pertimbangan utama pengguna adalah ketenangan jangka panjang, maka SKU sebelah lebih unggul; namun jika yang dicari adalah VRAM 6 GB dan jaringan service HP yang mapan, laptop ini yang lebih tepat.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan
- RTX 3050 varian 6 GB, bukan 4 GB seperti mayoritas kompetitor
- TGP 75 W, batas atas untuk RTX 3050 di laptop
- Panel 144 Hz IPS anti-glare
- Satu slot RAM dan satu slot SSD dibiarkan kosong untuk upgrade
- SSD bawaan 512 GB NVMe PCIe Gen 4
- Garansi 2 tahun resmi plus ADP
- Keyboard backlit putih
- Core i5-13420H 8 core dengan Passmark Multi-Thread 16.934
Kekurangan
- Panel cuman 62,5% sRGB, tidak akurat untuk kerja warna
- RAM bawaan single channel, perlu tambah satu keping
- RAM masih DDR4 3200, tertinggal dari DDR5 kompetitor
- Bobot total 2,8 kg bersama charger
- Isu engsel yang beredar di kalangan pengguna Victus
- Webcam berhenti di HD 720p 30 FPS
- Frame rate AAA di kisaran 42 โ 55 FPS, belum memanfaatkan panel 144 Hz
- Garansi 2 tahun, kalah dari kompetitor 3 tahun di harga sama
Kesimpulan
HP Victus 15 FA2716TX menempatkan diri sebagai pilihan yang aman di Rp15,4 juta, karena RTX 3050 varian 6 GB dengan TGP 75 W memberi ruang lebih lapang untuk game AAA maupun rendering dibanding varian 4 GB, dan panel 144 Hz-nya tepat sasaran untuk judul kompetitif. Ruang upgrade RAM dan SSD yang masih terbuka membuat laptop ini bisa dirawat naik seiring bertambahnya kebutuhan.
Namun tradeoffnya adalah tiga hal yang tidak bisa diperbaiki setelah pembelian, yaitu panel 62,5% sRGB, bobot total 2,8 kg, dan durasi garansi yang kalah dari kompetitor di harga sama. Jadi misal pengguna mencari price to performance paling agresif atau akurasi warna untuk kerja konten, maka SKU lain lebih tepat; namun jika yang dicari adalah VRAM 6 GB dengan jaringan service yang mapan, laptop ini masuk akal.
Direkomendasikan untuk: Gamer kompetitif maupun kasual yang memanfaatkan panel 144 Hz, serta mahasiswa teknik yang menjalankan aplikasi berat dan tidak keberatan dengan bobotnya.